Gitulah

Sedikit curhat tentang saya yang selalu merasa aneh dengan diri saya sendiri setiap diperintahkan menyusun tugas dari dosen produktif untuk membuat tugas selalu saja tidak nyaman dan terkesan bosan. Seperti tidak ada artistik sama sekali karena hasil tugasnya sama semua dengan teman satu kelas. Ya 90% seperti itu. Lalu dimana letak anehnya? Disini (nunjuk ke diri sendiri).

Saya selalu ingin berbeda dari yang lain. Setiap ada tugas seperti membuat program, jika 99% rekan saya membuatnya dengan bahasa pascal maka saya harus berbeda tanpa mengganti goal program. JIka 99% rekan saya menjawab soal UTS algoritma dengan bahasa pascal, maka saya menjawabnya dengan bahasa yang lain. Jika orang lain menggunakan proprietary software, maka saya menggunakan FOSS, kebalikannya. Dan seterusnya. Semuat itu saya lakukan saat diperkuliahan semester-semester sebelumnya.

Keanehan itu terus berlanjut sampai semester 5 dihadapkan dengan PPL (Proyek Perangkat Lunak). Saat semester ini kondisi saya kurang baik jadi saya memutuskan untuk berlibur satu semester dan masuk kembali saat semester 6. Saya mengira PPL sudah lewat, kenyataannya masih berlanjut ada sekitar 40% yang sudah melakukan eksekusi (baca: sidang PPL). Saat itu saya dipanggil oleh salah satu dosen dan menyuruh saya untuk mengambil PPL. Melihat situasi dan kondisi dengan singkat saya putuskan untuk mengambil PPL.

Setelah dipikir-pikir dan diingat-ingat, saat saya PPL tidak merencanakan tema apa yang akan dibungkus jadi laporan, melainkan hasil dari eksplorasi. Saat itu saya ingin membuat blog pribadi tapi bukan dari CMS yang udah ada, yang tinggal kita atur layout dan ngisi konten. Melainkan membuat sendiri dari nol dengan sedikit skill yang saya miliki setelah melewati semester dimana adanya matakuliah Pemrograman Web.

Saya analogikan seperti ini, lo punya basic IT? lo bisa bikin program? lo bisa bikin website? Gini jou, bikin website tapi pake CMS yang udah ada? Itu ibarat lo punya pisau, kompor, telor, minyak goreng, bawang dan sayangnya lo bisa masak. Sekali lagi, “lo bisa masak”. Tapi lo malah beli goreng telor yang udah jadi diwarung, tinggal lo taro piring tambah nasi terus dihias pake tomat atau acar. Selagi punya skill memasak kenapa harus beli? Lumayan kan uangnya bisa untuk nabung?! Jadi intinya, manfaatkan skill yang dimiliki untuk membuat program. Lo udah punya komputer/sewa warnet, lo udah punya tools nya dan lo punya skill pemrograman. Ga salah dan bukan berarti “belagu” membuat CMS sendiri. Kecuali emang waktunya yang mepet, baru yang instan boleh dipakai untuk “sementara”. Dan saat yang sementara berjalan ga ada salahnya lo bikin rancangan sendiri, bikin program sendiri yang memiliki perbedaan menonjol dari CMS yang udah ada. So, kalo bisa kenapa tidak?

Singkat cerita PPL saya sudah sampai akhir, selama lebih kurang 2 bulan pengerjaannya. Dan tema yang ada didalamnya bukan hasil dari serius, melainkan nyeleneh dan coba-coba. Judul PPL pun diterima dengan tanpa adanya diskusi antara saya dengan pembimbing. Karena program sudah dibuat, saya hanya tinggal membuat laporan dari dokumentasi programnya. Cukup instan dan cepat dikarenakan ide dan seluruh isi program hasil konsep pribadi.

PPL pun lewat. Semester 6 saya dipertemukan dengan seorang cewek cantik Pemrograman Kreatif. Siswa dituntut untuk membuat sebuah program sekreatif mungkin, bebas dengan menggunakan bahasa pemrograman apapun. Disini saya coba nyeleneh lagi dan coba-coba menyodorkan program hasil eksplorasi waktu disemester 1 dan 2. Dengan senyum kamvret saya pun dijadwalkan sidang PK (Pemgrograman Kreatif).

njir… PPL gue bisa dibilang kamvret, lah terus PK juga sama. Hhaha

Segala sesuatu yang saya buat dengan tanpa disuruh (baca: keinginan sendiri) malah menjadi daya tarik dan semangat untuk terus berkarya. Siapa sangka program jelek bisa jadi bahan PPL? Siapa sangka program yang sangat standar bisa jadi bahan PK? Semua itu berawal dari eksplorasi. Setiap ada ide saya catat dan implementasikan.

Tidak terasa sudah sampai puncaknya, sekarang saya sedang ada dipuncak akhir segalanya (baca: semester akhir) yang tidak tahu harus meneliti apa membuat apa untuk bahan tugas akhir? (Retoris). Apakah dari hasil eksplorasi? Padahal saya udah meliburkan diri satu bulan ini tidak coding tidak membuka teks editor agar saat penyusunan tugas akhir semua gairah coding tamplok (basa sunda).

Tugas Akhir itu harus enjoy, santai tapi memanfaatkan waktu juga untuk merenung dan berpikir tentang kontennya. Ya santai boleh tapi tidak larut dalam kesantaian dengan datang ke kampus hanya untuk download anime series episode terbaru (itu saya) tapi juga bimbingan dengan dosen tugas akhir. Apa gunanya dosen pembimbing? Ya tidak lain untuk membantu mahasiswa mencari jalan keluar dari ruangan sempit (baca: pemikiran pesimis) yang mahasiswa itu buat sendiri.

Sama, saya juga sedang menyusun tugas akhir dan belum menemukan chek point (baca: jalan keluar) untuk mengawali penelitian yang sebenarnya. Yo Ayo Semangat! Tugas Akhir, Tugas Akhir adalah Tugas Terakhir kita sebagai mahasiswa. So, buatlah senyaman, se-semangat, se-seru mungkin 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s